Quraish Shihab mengutip dari Alexis Carrel dalam “Man the Unknown”, bahwa banyak kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia, karena keterbatasan-keterbatasan manusia sendiri.
Istilah kunci yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk pada pengertian manusia menggunakan kata-kata basyar, al-insan, dan an-nas.
Kata basyar disebut dalam Al-Qur’an 27 kali. Kata basyar menunjuk pada pengertian manusia sebagai makhluk biologis (QS Ali ‘Imran [3]:47) tegasnya memberi pengertian kepada sifat biologis manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.
Kata al-insan dituturkan sampai 65 kali dalamAl-Qur’an yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori. Pertama al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS Al-Ahzab [3]:72), kedua al-insan dihubungankan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS Al-Ma’arij [70]:19-21) dan ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS Al-Hijr [15]:28-29). Semua konteks al-insan ini menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual.
Kata an-nas yang disebut sebanyak 240 dalam Al-Qur’an mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial dengan karateristik tertentu misalnya mereka mengaku beriman padahal sebenarnya tidak (QS Al-Baqarah [2]:8)[1]
Dari uraian ketiga makna untuk manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahkluk biologis, psikologis dan sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan hak maupun kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum yang berlaku (sunnatullah).[2]
Al-Qur’an memandang manusia sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan sebagai manusia yang kotor dan penuh dosa. Peristiwa yang menimpa Nabi Adam sebagai cikal bakal manusia, yang melakukan dosa dengan melanggar larangan Tuhan, mengakibatkan Adam dan istrinya diturunkan dari surga, tidak bisa dijadikan argumen bahwa manusia pada hakikatnya adalah pembawa dosa turunan. Al-Quran justru memuliakan manusia sebagai makhluk surgawi yang sedang dalam perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual yang suci dan abadi di negeri akhirat, meski dia harus melewati rintangan dan cobaan dengan beban dosa saat melakukan kesalahan di dalam hidupnya di dunia ini. Bahkan manusia diisyaratkan sebagai makhluk spiritual yang sifat aslinya adalah berpembawaan baik (positif, haniif).
Karena itu, kualitas, hakikat, fitrah, kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah. Tidak ada makhluk di dunia ini yang memiliki kualitas dan kesejatian semulia itu. Sungguhpun demikian, harus diakui bahwa kualitas dan hakikat baik benar dan indah itu selalu mengisyaratkan dilema-dilema dalam proses pencapaiannya. Artinya, hal tersebut mengisyaratkan sebuah proses perjuangan yang amat berat untuk bisa menyandang predikat seagung itu. Sebab didalam hidup manusia selalu dihadapkan pada dua tantangan moral yang saling mengalahkan satu sama lain. Karena itu, kualitas sebaliknya yaitu buruk, salah, dan jelek selalu menjadi batu sandungan bagi manusia untuk meraih prestasi sebagai manusia berkualitas mutaqqin di atas.
Gambaran al-Qur’an tentang kualitas dan hakikat manusia di atas megingatkan kita pada teori superego yang dikemukakan oleh sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa kenamaan yang pendapatnya banyak dijadika rujukan tatkala orang berbicara tentang kualitas jiwa manusia.
Menurut Freud, superego selalu mendampingi ego. Jika ego yang mempunyai berbagai tenaga pendorong yang sangat kuat dan vital (libido bitalis), sehingga penyaluran dorongan ego (nafsu lawwamah/nafsu buruk) tidak mudah menempuh jalan melalui superego (nafsu muthmainnah/nafsu baik). Karena superego (nafsu muthmainnah) berfungsi sebagai badan sensor atau pengendali ego manusia. Sebaliknya, superego pun sewaktu-waktu bisa memberikan justifikasi terhadap ego manakala instink, intuisi, dan intelegensi –ditambah dengan petunjuk wahyu bagi orang beragama– bekerja secara matang dan integral. Artinya superego bisa memberikan pembenaran pada ego manakala ego bekerja ke arah yang positif. Ego yang liar dan tak terkendali adalah ego yang negatif, ego yang merusak kualitas dan hakikat manusia itu sendiri.
Kata “Abdi” berasal dari kata bahasa Arab yang artinya “memperhambakan diri”, ibadah (mengabdi/memperhambakan diri). Manusia diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepada-Nya. Pengertian ibadah di sini tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh masyarakat pada umumnya, yakni kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji tetapi seluas pengertian yang dikandung oleh kata memperhambakan dirinya sebagai hamba Allah. Berbuat sesuai dengan kehendak dan kesukaann (ridha) Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.[3]
Sebagai orang yang beriman kepada Allah, segala pernyataan yang keluar dari mulut tentunya dapat tersingkap dengan jelas dan lugas lewat kitab suci Al-Qur’an sebagai satu kitab yang abadi. Dia menjelaskan bahwa Allah menjadikan manusia itu agar ia menjadi khalifah (pemimpin) di atas bumi ini dan kedudukan ini sudah tampak jelas pada diri Adam (QS Al-An’am [6]:165 dan QS Al-Baqarah [2]:30) di sisi Allah menganugerahkan kepada manusia segala yang ada dibumi, semula itu untuk kepentingan manusia (ia menciptakan untukmu seluruh apa yang ada dibumi ini. QS Al-Baqarah [2]:29). Maka sebagai tanggung jawab kekhalifahan dan tugas utama umat manusia sebagai makhluk Allah, ia harus selalu menghambakan dirinyakepada Allah Swt.
Untuk mempertahankan posisi manusia tersebut, Tuhan menjadikan alam ini lebih rendah martabatnya daripada manusia. Oleh karena itu, manusia diarahkan Tuhan agar tidak tunduk kepada alam, gejala alam (QS Al-Jatsiah [45]:13) melainkan hanya tunduk kepada-Nya saja sebagai hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56). Manusia harus menaklukanya, dengan kata lain manusia harus membebaskan dirinya dari mensakralkan atau menuhankan alam.
Jadi dari uraian tersebut diatas bisa ditarik kesimpulan secara singkat bahwa manusia hakikatnya adalah makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya dihadapan Allah sebagai Hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56) dan fungsinya didunia sebagai khalifah Allah (QS Al-Baqarah [2]:30); al-An’am [6]:165), mengantur alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh kepada sunnatullah.
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
Manusia terdiri dari sekumpulan organ tubuh, zat kimia, dan unsur biologis yang semuanya itu terdiri dari zat dan materi Secara Spiritual manusia adalah roh atau jiwa. Secara Dualisme manusia terdiri dari dua subtansi, yaitu jasmani dann ruhani (Jasad dan roh). Potensi dasar manusia menurut jasmani ialah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang bagaimanapun, di darat, laut maupun udara. Dan jika dari Ruhani, manusia mempunyai akal dan hati untuk berfikir (kognitif), rasa (affektif), dan perilaku (psikomotorik). Manusia diciptakan dengan untuk mempunyai kecerdasan.[5]
Kata agama dalam bahasa Indonesia berarti sama dengan “din” dalam bahasa Arab dan Semit, atau dalam bahasa Inggris “religion”. Dari arti bahasa (etimologi) agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun. Sedangkan kata “din” menyandang arti antara lain menguasai, memudahkan, patuh, utang, balasan atau kebiasaan.[6]
Secara istilah (terminologi) agama, seperti ditulis oleh Anshari bahwa walaupun agama, din, religion, masing-masing mempunyai arti etimologi sendiri-sendiri, mempunyai riwayat dan sejarahnya sendiri-sendiri, namun dalam pengertian teknis terminologis ketiga istilah tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu:
Menurut Durkheim Durkheim: agama merupakan sebuah sistem kepercayaan dan ritual yang berkaitan dengan yang suci (the sacred). Bagi Spencer, agama adalah kepercayaan terhadap sesuatu yang Maha Mutlak. Sementara Dewey, menyatakan bahwa agama adalah pencarian manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya; agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat. Rita Smith Kipp dan Susan Rodgers: agama harus (1) monoteistik, (2) mempunyai kitab, (3) mempunyai nabi, dan (4) mempunyai komunitas internasional.[7]
Dengan demikian, mengikuti pendapat Smith, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa hingga saaat ini belum ada definisi agama yang benar dan dapat ditarima secara universal.[8]
Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:
Karakteristik agama dalam kehidupan manusia seperti halnya bangunan yang sempurna. Seperti dalam salah satu sabda nabi Muhammmad, bahwa beliau adalah penyempurna bangunan agama tauhid yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul sebelum kedatangan beliau.
Layaknya sebuah bangunan agamapun harus memiliki rangka yang kokoh, tegas, dan jelas. Rangka yang baik adalah rangka yang menguatkan bangunan yang akan dibangun di atasnya. Memiliki ukuran yang simetris satu sama lainnya. Komposisi bahan yang tepat karena berperan sebagai penopang. Oleh sebab itu, kerangka harus memiliki luas yang cukup atau memiliki perbandingan yang sesuai dengan bangunannnya. Itulah sebaik-baiknya agama dengan demikian agama pada dasarnya berperan sebagai pedoman kehidupan manusia, untuk menjalani kehidupannya dibumi. Manusia akan kehilangan pedoman atau pegangan dalam menjalani kehidupan di dunia bila tidak berpedoman pada agama. Dewasa ini agama mengalami beralih dan berpedoman kepada akal logikanya. Padahal akal dan logika manusia memiliki keterbatasan yaitu keterbatasan melihat masa depan. Sedangkan agama telah disusun sedemikian rupa oleh sang pencipta agar menjadi pedoman sepanjang hayat manusia. Akibat dari skularisme ini menimbulkan gaya hidup baru bagi kaum muslim yakni gaya hidup hedomisme dan pragmatis.
Adapun karakteristik agama pada umumnya adalah sebagai berikut:
Kalau kita perhatikan agama yang berkembang dan ada di dunia ini ada dua yang pokok, yaitu yang disebut dengan agama bumi dan agama langit yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. Adapun ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:[10]
Konsepsinya tentang Tuhan, manusia dan alam amat jelas dan tegas, serta lengkap.
Sekurang-kurangnnya ada tiga alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:[11]
Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan pertama kali ditegaskan dalam ajaran Islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia. Sebelumnya, manusia belum mengenal kenyataan ini. Baru di masa akhir-akhir ini, muncul beberapa orang yang menyerukan dan mempopulerkannya. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya itu. Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia.
Dalam Surat al-Rum, 30: 30
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”
Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis dari istilah insan yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan manusia. Menurut Musa Asy’ari, bahwa manusia insane adalah manusia yang menerima pelajaran dari tentang apa yang tidak diketahuinya
Adanya perjanjian manusia dengan Allah yang telah diikat oleh fitrah mereka. Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut diatas, buat pertama kalinya ditegaskan dalam ajaran Islam Yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitrah manusia.
Informasi mengenai potensi beragama dimiliki manusia itu dapat dijumpai pada ayat al-Qur'an (surat al-A'raf ayat 172)
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk nabi dalam salah satu hadisnya yang mengatakan bawha setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka percayai itu terbatas pada daya khayalnya. Misalnya saja, mereka mempertuhankan benda-benda alam yang menimbulkan kesan misterius dan mengagumkan serta memiliki kekuatan yang selanjutnya mereka jadikan Tuhan, kemudian kepercayaan ini disebut dengan dinamisme. Selanjutnya, kekuatan misterius tersebut mereka ganti istilahnya dengan ruh atau jiwa yang memiliki karakter dan kecenderungan baik dan buruk yang selanjutnya mereka beri nama agama animisme. Roh dan jiwa itu selanjutnya mereka personifikasikan dalam bentuk dewa yang jumlahnya banyak dan selanjutnya disebut agama politeisme. Kenyataan ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi bertuhan. Namun karena potensi tersebut tidak diarahkan, maka mengambil bentuk bermacam-macam yang keadaanya serba relatif. Dalam keadaan demikian itulah para nabi diutus kepada mereka untuk menginformasikan bahwa Tuhan yang mereka cari itu adalah Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana juga dinyatakan dalam agama yang disampaikan para nabi. Dengan demikian, sebutan Allah bagi Tuhan bukanlah hasil khayalan manusia dan bukan pula hasil seminar, penelitian, dan sebagainya. Sebutan atau nama Allah bagi Tuhan adalah disampaikan oleh Tuhan sendiri.
Ketika kita mengkaji paham hulul dari Al-Hallaj (858-922 M). Misalnya kita jumpai pendapatnya bahwa pada diri manusia terdapat sifat dasar ke-Tuhanan yang disebut lahut, dan sifat dasar kemanusiaan yang disebut nasut. Demikian pula pada diri Tuhan pun terdapat sifat lahut dan nasut. Sifat lahut Tuhan mengacu pada dzat-Nya, sedangkan sifat nasut Tuhan mengacu pada sifat-Nya. Sementara itu sifat nasut manusia mengacu kepada unsur lahiriah dan fisik manusia, sedangkan sifat lahut manusia mengacu kepada unsur batiniah dan Ilahiah. Jika manusia mampu meredam sifat nasutnya maka yang tampak adalah sifat lahutnya. Dalam keadaan demikian terjadilah pertemuan anatara nasut Tuhan dengan lahut manusia, dan inilah yang dinamakan hulul.
Faktor lain yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adala karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara lain diungkapkan oleh kata an-nafs. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam pandangan al-qur’an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh al-qur’an dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Seperti yang tertera dalam al-qur’an surat Al-Syams ayat 7-8:
o وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
o فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
”dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams, 91:7-8)
Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Tetapi kata nafs dalam pandangan kaum sufi merupakan sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan periaku buruk. Pengertian kaum sufi tentang nafs ini sama dengan yag terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa yang antara lain menjelaskan bahwa nafs adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik. Selanjutnya, Quraish Shihab mengatakan, walaupun al-qur’an menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun doperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada daya tarik negatifnya, hanya aja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Untuk menjaga kesucian nafs ini manusia harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan agama, dan di sinilah letaknya kebutuhan manusia terhadap agama.
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan, sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Lihat Surat Al-Isra’ ayat 53.
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia
Sementara tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dati Tuhan. Seperti yang tertera dalam al-qur’an surat Al-anfal ayat 36:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّه
Artinnya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.”
Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin meningkat, sehinga upaya mengagamakan masyarakat menjadi penting.
Secara bahasa, Islam berasal dari kata salima, aslama yang mengandung arti selamat sejahtera; ilmu atau salm = kedamaian, kepatuhan dan ketundukan.[12] Orang yang berpegang teguh kepada Islam disebut muslim, Ibnu Katsir sebagaimana yang di kuip oleh Nurcholis Majid mengatakan : “muslimun adalah mereka dari kalangan umat ini yang percaya pada semua nabi yang di utus, mereka tidak mengingkarinya sedikitpun, melainkan menerima kebenaran segala sesuatu yang di turunkan, mereka tidak mengngkarinya sedikitpun, melaikan menerima kebenaran segala sesuatu yang di turunkan dari sisi tuhan dan dengan semua nabi yang di bangkitkan oleh Tuhan. Berikutnya, arti Isla inni di kemukakan oleh Ibu Taimiyah. Ia mengatakan bahwa “al-Islam” mengandung dua makna yaitu : Pertama, ialah sikap tunduk dan patuh, jadi tidak sombong; Kedua, ketulusan dalam sikap tunduk kepada satu pemilik atau penguasa, seperti difirmankan Allah “Dan siapa yang tidak suka kepada agama ibrahim kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri. Padahal sungguh kami telah memilihnya di duni, dan ia di akhirat pastilah termasuk orang-orang yang salih. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya,”wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan agama untuk kamu sekalian, maka janganlah sampai kamu mati kecuali kamu adalah orang-orang yang pasrah(muslimin) kepada-Nya”.(Q.S.2 : 130 – 132). Kata Mushtahafa al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi, jilid I, halaman : 124 yang di maksud al-Musimun adalah mereka orang-orang yang menjaga agama Allah (al-Islam), mereka tidak bercerai-berai, berpegang kepada satu petunjuk yang Allah pilihkan buat kamu. Jadi, Islam adalah agama yang memberikan kedamaian, kepatuhan, ketundukan, dan kepasrahan kepada satu aturan, satu akidah dan satu norma aturan yang harus diindahkan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt., berfirman :[13]
Bukti bahwa Islam adalah agama Tuhan (Allah) yang bersifat monothisme (satu Tuhan), sangat berbeda dengan agama-agama lain yang pernah ada di dunia. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Islam di sebut juga agama unik, karena penamaan Islam tidak dikaitkan dengan nama tempat dimana agama itu lahir (Makkah), juga tidak dihubungkan dengan tokoh atau pembawanya (yakni Muhammad saw.). Hal ini berbeda dengan agam lain, misalnya : Hindu dihubungkan dengan nama tempat kelahiran (Hindustan), atau agama budha dihubungkan dengan nama tokohnya, yaitu Sidarta Gautama, agama Kristen di ambil dari kata Yesus Kristus dan agama-agama lain yang disebut oleh manusia.[14]
Hadirnya Islam di muka bumi, tidak di ukur oleh besaran daerah atau wilayah, Islam tembus ke seluruh alam. Allah swt., berfirman “dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al-Anbiya 21 : 107)
Ali as-Shabuny, menafsirkan ayat di atas sebagai berikut : “dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Dalam sebuah hadist yang dikeluarkan oleh al-Hafizd Ibnu ‘Asakar dikatakan, “sesungguhnya aku di utus untuk menjadi rahmat yang di bentangkan ke penjuru alam. Barangsiapa yang menerima rachmat (kasih sayang) Allah dan mensyukuri segala nikmat-Nya aka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat nanti”. Lebihlanjutas-Shabuny mengatakan : “sesungguhnya Allah swt. Memberikan rahmat-Nya kepada seluruh makhluk yaitu dengan cara mengutus rasul terakhir Rasullulah Muahammad saw., karena sesungguhnya dia (Muhammad) datang kepada mereka dengan membawa kebahagiaan yang hakiki dan meneyalamatkan di hari akhir, Rasullulah saw. Mengajarkan mereka keluar dari asal kegelapan menuju alam terang benderang, memberi petunjuk kepada meerka dari kesesatan tegasnya, menjadi rahmat bagi seluruh alam, orang-orang kafir pun dikasihi sehigga meerka merasakan akibatnya.
Ajaran Islam bersifat universal, ajarannya mengandung nilai-nilai hukum, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain, bahkan sangat terbuka bagi adanya suku, adat istiadat dan budaya. Al-Quran memberikan informasi tentang hal di atas, seperti terjemahan ayat di bawah ini
“hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang palling bertakwa di antara kamu. Sesunguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.
Menurut as-Shabuny bahwa Allah swt telah menciptakan kamu dari asal yang satu, dan Allah menjadikan kamu dari satu ayah dan satu ibu. Oleh karena itu, janganlah kamu saling menghabisi dan bertikai. Muhajid berkata : Adapun arti “lita’arafu” adalah supaya manusia mengetahui keturunan atau nasabnya. Diceritakan si fulan bin di fulan dari nasab ini atau nasab itu. Syekh Zadah berkata, ayat di atas mengandung pelajaran (hikmah) 9 yang dapay di ambil yaitu Allah menjadikan kamu (Adam dan Hawa serta keturunannya) yakni ; berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya sebagian dari kamu mengenal keturunan hanya karena melihat kedudukan ayahnya atau berbangga-bangga karena kebesaran nenek moyangnya, dan tidakakan terjadi diskriminasi pernikahan antara kaum bangsawan dengan rakyat jelata, yang membedakan di antara mereka berdua adalah bukan status sosial dan kedudukan akan tetapi lebih kepada masalah keimanan dan ketakwaannya. Hal ini bagaikan terhalangnya sinar bintang ketika matahari terbit. Artinya, orang yang membanggakan keturunan dan kebesaran nenek moyangnya di pandang kecil seperti cahaya bintang, karena yang besar itu adalah nilai keimanan dan ketakwaaan seseorang, itulah bagaikan sinar matahari yang mengalahkan cahaya bintang dan terangnya mencapai ke pelosok dunia.
Sisi lain dari keuniversalannya ajaran Islam adalah di dalamnya terkandung wilayah untuk berbeda budaya dan adat istiadat,11 selama budaya dan adat istiadat tersebut tidak bersebranga dengan nash al-qur’an dan as-sunnah. Budaya dan adat itu sendiri tidak perlu diseragamkan kepada dunia arab atau timur tengah, misalnya cara makan harus pakai tanga langsung tanpa menggunakan sendok, cara berpakaian bagi kaum priaharus pakai jubah, sorban dan berjenggot, seorang pria yang berjenggot bukan jadi ukuran, yang menjadi ukuran adalah keimanan dan ketakwaannya.[15]
Ada beberapa kata kunci dalam memahami ajran Islam, terutama kaitannya dengan Dakwah Islam, yaitu kata Nabi, Rasul dan Risalah. Kata Nabi dan Rasul bobot dan tugasnya sama, yakni sebagai pembawa Risalah, (ajaran Allah swt.) untuk di sampaikan kepada seluruh umat manusia. Disisi lain, Nabi Muhammad saw., kadang-kadang di sebut Rasul, seperti firman Allah swt.
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk di menagkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”(QS. At-Taubah 9 ; 33)
Dalam kesempatan yang lain, Rasulllulah di sebut Nabi, misalnya dalam shalat lima waktu.
“kepunyaan Allah-lah kehormatan, keberkahan, dan rahmat yang baik, semoga keselamatan Allah curahkan hanya kepadamu wahai Nabi, serta mudah-mudahan Allah curahkan pula rahmat dan keberkahan-Nya”
Ayat lain menyebutkan bahkan bersama-sama rasul dan nabi sekaligus[16]
“dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah musa di dalam al-kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan Nabi.”
“dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mndekatkannya kepada Kami di waktu Dia munajat (kepada Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami. Yaitu saudaranya, Harun manjadi seorang Nabi. Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Quran. Dan sesungguhnya ia adalah seorang Rasul dan Nabi.”
Dari paparan surat di atas, bisa ditarik benang merahnya bahwa risalah Allah swt. mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Agama fitrah dan manusia, itulah kunci yang sering dibicarakan oleh berbagai level lapisan masyarakat, lebih-lebih masyarakat ilmiah atau kalangan dunia kampus baik negeri ataupun swasta, mereka sering mendiskisuikannya, sampai berjam-jam bahkan berhari-hari, mereka begitu asyik mendiskusikan tentang dua hal di atas.
Di masyarakat nampak jelas, orang yang tidak mengindahkan nilai-nilai agama (islam) kehidupannya tidak harmonis, serba kekurangan, stres dan sering sekali dihantui rasa lapar dan takut. Takut tidak lulus ujian, takut dimutasi, dan takut di PHK (putus hubugan kerja), takut sembako naik, takut BBM pindah harga dan lain-lain. Di sisi lain, orang yang selalu bersyukur kepada Allah, gaya hidupnya relatif lebih tenang meskipun dia tidak kaya, tapi merasakan arti dari sebuah keberkahan dan percaya diri bahkan optimis dalam menghadapi roda kehidupan. Allah swt. berfirman :
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka”
“dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan di sebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”
Allah swt., menciptakan manusia di muka bumi sudah dilengkapi denan aturan, tatanan, dan tata nilaiyang tidak mungkin bertetangan dengan karakter dan potensi manusia itu sendiri. Bahkan justru sebaliknya, terjadi sinerji yang serasi, seimbang dan kesinambungan apabila ajaran Tuhan dilaksanakan. Muhammad Sulaiman bin Abdullah al-Asygar, ahli fikih kontempoleer kuwait, mengemukakan lima hal yang menjadi bukti kebenaran ajaram (risalah) Allah swt.
Pertama, bukti yang didukung oleh mukjizat, yakni peristiwa luar biasa yang melanggar hukum-hukum alam yang biasa berlalu. Misalnya: Nabi Ibrahim as. Tidak hangus ketika di bakar oleh kaumnya.
Kami berfirman: “ hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”., Tongkat nabi Musa a.s. dapat berubah menjadi ular yang menghabisi ular-ular tukang sihir Fir’aun.
“dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”
Kedua, adanya berita yang telah di ketahui oleh umat sebelumnya bahwa akan datang risalah yang baru dari Allah swt. hal ini seperti yang di sebutakn dalam kitab Taurat dan Injil, seperti terdapat dalam ayat :
“dan sesungguhnya al-Quran itu benar-benar tersebut dalam Kitab-kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya ?”
Ketiga, rasul-rasul pembawa risalah adalah orang yang terpandang di kalangan kaumnya, mereka dipercayai oleh kaumnya karena keluhuran budi dan ketinggian akhlaknya. Nabi jujur, benar, dapat dipercayai, dan berakhlak mulia, sehingga populer panggilannya dengan al-Amin (yang jujur). Allah swt., berfirman :
“Dan (dia berkata):”Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak Mengetahui”.
Keempat, ajaran yang terdapat dalam suatu risalah tidak bertentangan antara satu dan yang lain seperti dijelaskan dalam qur’an : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapat pertetangan yang banyak di dalamnya.”
Kelima, adanya sokongan (ta’yid) dan bantuan (nasrah) Allah swt., kepada para rasul yang membawa risalah-Nya, sekalipun mereka tidak terlepas dari ujian-Nya. Allah swt., telah menolong Nabi Muhammad saw. Dengan meringankan bebannya seperti firman-Nya.
Patut dicermati, apabila ajaran Allah dilaksanakan hamba-Nya, baik itu salat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, pasti akan mendatangkan hikmah, misalnya; shalat apabila dikerjakan menjadikan dai menjadi orang yang bertakwa (Q.S. 2:21)
“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”
Puasa, manakala di tunaikan semata-mata hanya mengharap ridha Allah maka ia akan menjadi orang yang bertakwa, (Q.S. 2:183)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Ibadah haji, orang yang sudah mampu untuk melaksanakan ibahdah haji ke Baitullah ketika dai lakukan selama lebih kurang satu bulan lamanya, ia pun akan menjadi orang yang takwa. (Q.S. 2 : 197)
“Musim haji adalah beberapa bulan yang di maklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal”.
Apa sebenaranya keistimewaan agama Islam ini, sehingga banyak menarik manusia, baik pada masa lampau dan juga pada masa modern sekarang ini?
Untuk menjawab pertanyaan di atas dalam buku berjudul “Islam Our Choice”, pada pengarahan II yang ditulis oleh Al-Ustad Khursyid Ahmad menyebutkan antara lain sebagai berikut:[17]
Islam adalah satu agama tanpa dongeng, ajarannya gampang, sederhana, jelas, mudah difahami oleh siapa saja. Ia tidak mementingkan khurafat, tidak terdapat di dalamnya kepercayaan-kepercayaan yang tidak masuk akal. Beriman sdengan ke-Esaan Allah dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. dari Allah, dengan kehidupan di alam akhirat yang semuanya merupakan pokok-pokok kepercayaan yang asasi dalam Islam, adalah berdiri diatas dasar pemikiran yang wajar dan cocok dengan peristiwa dan kenyataan di alam nyata.
Di dalam agama Islam tidak ada pangkat kependetaan yang berkuasa mengatur agama. Tidak ada masalah-masalah abstrak yang sukar dijangkau akal. Tidak ada rumusan-rumusan kepercayaan yang kacau balau. Tidak ada upacara-upacara keagamaan sebagai dalam agama-agama lain. Semua orang diperbolehkan malah diharuskan membaca dan mempelajari Al-Quran dan menerjemahkannya lalu melaksanakannya. Semua ajarannya mudah dimengerti oleh akal dan dapat dilaksanakan oleh tubuh.
Hanya Islamlah satu-satunya agama yang tidak memisah antara benda dan roh, dan memandang bahwa kehidupan adalah kesatuan yang mengandung kedua-duanya. Manusia tidak dihalanginya memenuhi segala kebutuhan hidupnya, bahkan Islam mengatur segala kebutuhan hidup itu. Tidak pernah Islam melarang memenuhi kebutuhan jasmaninya, tidak pernah menganjurkan agar manusia menjauhkan diri dari kehidupan kebendaan. Hanya disamping itu Islam menggariskan jalan untuk mengangkat pihak kerohaniannya, yaitu selalu bertaqwa kepada Allah dalam segala segi kebutuhannya, bukan dengan cara melenyapkan kebutuhan-kebutuhan kehidupan duniawi.
Islam bukan hanya satu agama menurut pengertian biasa, tetapi satu cara kehidupan yang mencakup kehidupan perorangan dan kemanusiaan yang sempurna dalam segala lapangan dan likunya materiil dan spiritual, baik dalam bidang ekonomi, politk, kebudayaan, hukum, baik yang bersifat nasional atau internasional.
Islam secara terang dan tegas menuju kepada kebersihan jiwa manusia dan mengembalikan pembangunan masyarakat atas dasar yang kokoh. Dan memasuki Islam, tanpa ikatan atau syarat apapun, selain hanya untuk menegakkan Allah dalam semua lapangan atau bidang kehidupan manusia.
Satu kenyataan lain yang hanya terdapat di dalam agama Islam ialah, bahwa ia mengatur keseimbangan antara kehidupan perseorangan dan kehidupan bersama dalam masyarakat. Ia tetap mengakui akan kehidupan perseorangan itu, dan memandang bahwa setiap perorangan bertanggung jawab dan akan diperhitungkan di hadapan pengadilan Allah. Setiap pribadi dijamin hak-hak pribadinya yang asasi. Siapapun tidak diperbolehkan menyia-nyiakan atau menguranginya. Kemudian Islam memelihara akan kehormatan orang perorangan, bahkan masalah itu ditempatkan Islam di tingkat pertama dari ajaran dan pendidikannya. Hak perseorangan tidak boleh diperkosa oleh instansi masyarakat atau pemerintah sekalipun.
Adapun terhadap kehidupan bersam (masyarakat), Islam mengajarkan dalam jiwa manusia peranan bertanggung jawab terhadap kebaikan masyarakat perhubungan mereka dalam lingkungan masyarakat dan negara. Tiap-tiap orang diperintahnya untuk memelihara kebaikan dan kepentingan umum (bersama).
Dapatlah diambil kesimpulan bahwa Islam menetapkan hak perseorangan dan hak masyarakat dengan peraturan-peraturan yang sangat terperinci yang cocok dengan kepentingan kedua hal tersebut.
Islam adalah risalah Allah untuk bangsa manusia seluruhnya. Islam itu menganggap bahwa manusia sama dan sederajat, sekalipun berbeda warna, bahasa, kebangsaan dan tanah tempat lahirnya. Ajaran Islam yang demikian ini adalah satu pengarahan dari Allah sendiri terhadap hati nurani setiap insan untuk melenyapkan segala effek perbedaan yang negatif, baik perbedaan kebangsaan, kedudukan sosial atau kekayaan.
Jelaslah bahwa Islam adalah agama internasional yang universal dalam ajaran dan pandangannya. Ia tidak memperkenalkan secra mutlak munculnya pembatasan-pembatasan, perbedaan-perbedaan yang berlaku di zaman jahilliyah, Islam adalah agama yang bertujuan menhimpun dan mempersatukan manusia di seluruhnya di bawah sebuah bandara, merupakan satu keluarga, berasal dari satu turunan, Tuhannya satu, yaitu Allah.
Mr. Justice Cordoza menyatakan: “Yang sangat dibutuhkan oleh masa kini ialah satu filsafat yang mengetengahi antara berbagai kepentingan yang selalu bentrok, antara faham yang beku dan kolot dengan faham yang dinamisdan maju, untuk menunjang dan mengamankan pertumbuhan alam dan isinya.”
Sudah menjadi kenyataan, bagi setiap pemikir dan penyelidik bahwa kehidupan ini tidaklah beku, tetapi selalu berkembang atau berubah. Dan tidak pula beubah dengan sepenuh arti kata “berubah”.
Islam sudah berhasil menetapkan kaidah dan ajaran yang cocok dengan keadaan yang tetap dan yang berubah-ubah itu.
Ada beberapa perkara yang pokok dalam hidup yang tidak berubah, sekalipun masa telah berganti masa, keadaan sudah berganti-ganti. Hanya cara-cara mengatasi beberapa perkara dan masalah yang menimbulkan berbagai kesulitan harus beruba-ubah menurut perubahan zamannya, kalau tidak, tentu tidak akan berhasil.
Oleh karena itu para ilmuwan di setiap zaman dan tempat harus selalu memeras pemikiran (berijtihad) menyesuaikan segala tindakan dan peraturan dengan pokok-pokok dan dasar-dasar yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu.
Jadi ajaran-ajaran atau petunjuk Tuhan yang pokok adalah tetap tidak berubah-ubah, hanya cara pelaksanaannya yang harus berubah-ubah menurut kebutuhan dan keadaan setiap masa atau tempat.
Ajaran-ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Quranul karim adalah tetap sebagaimana aslinya yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad dengan perntara Malaikat Jibril. Tidak pernah dirubah ataupun diganti sedikitpun. Kenyataan ini tidak dapat dibantah oleh siapapun, bahkan diakui keasliannya oleh Prof. Reynold A. Nicholson, yang menyatakan: “Al-Quran benar-benar adalah satu dokumen kemanusaiaan yang paling bernilai, ia membayangkan secara teliti akan rahasia setiap gerak-gerik, tindak-tanduk Muhammad dari setiap kehidupannya, sehingga kita dapati di dalamnya (fakta) yang unik terpercaya keaslian dan kebenarannya, tidak ada keraguan atau tak dapat dibantah kebenarannya, sehingga kita dapat mengikutia perkembangan agama Islam sejak muncuk dan lahirnya dari hari lahirnya yang pertama. Hal mana tidak ada teandig dan yang dapat menyamainya di dalam agama Budha atau Kristen atau agama-agama lama yang lain di dunia ini.”
Manusia hakikatnya adalah makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya dihadapan Allah sebagai Hamba Allah dan fungsinya didunia sebagai khalifah Allah, mengantur alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh kepada sunnatullah. Rasa agama dan perilaku keagamaan (agama dan kehidupan beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan “fitrah” manusia.
Manusia tidak akan pernah lepas dari agama karena dalam diri manusia ada fitrah. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Faktor lain yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan, dan Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar.
Pustaka:
[1] Didiek Ahmad Supadie,dkk. Pengantar Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers,2011), hal.137-138
[2] M. Amin Syukur, Pengantar Studi Islam, (Semarang:Pustaka Nuun,2010), hal.9
[3] Didiek Ahmad Supadie,dkk. Pengantar Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 143
[4]Miftah Ahmad Fathoni, Pengantar Studi Islam, (Semarang:Gunung Jati,2001),hal.18
[5]Miftah Ahmad Fathoni, Pengantar Studi Islam, (Semarang: Gunung Jati,2001), hal. 19-23
[6] Harun Nasution, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya , Jilid I. (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1985), hal. 18
[7] Hasse J, Pemetaan Teori Sosial dalam Penelitian Sosial Keagamaan, Makalah pada Pelatihan Metodologi Penelitian Islam Keagamaan, STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Tanggal. 26 September 2013
[8] Didiek Ahmad Supadie,dkk. Pengantar Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal. 35-36
[9] Amin Syukur, Pengantar Studi Islam, (Semarang:Pustaka Nuun, 2010), hal. 26-29
[10] Muhammad Amin, Pribadi Muslim,(Surabaya : Al-Ihsan, 1992), Hal: 24-25
[11]Abuddin Nata, M.A. Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers. 2010), hal. 20
[12] Abidin, Zaenal. 2012. Panduan Mentoring Pendidikan Agama Islam Kontemporer. (Bandung: Unpas Press) hal : 1
[13] Abidin, Zaenal. 2012. Panduan Mentoring Pendidikan Agama Islam Kontemporer. (Bandung: Unpas Press) hal : 1
[14] Abidin, Zaenal. 2012. Panduan Mentoring Pendidikan Agama Islam Kontemporer. (Bandung: Unpas Press) hal : 3
[15] Abidin, Zaenal. 2012. Panduan Mentoring Pendidikan Agama Islam Kontemporer. (Bandung: Unpas Press) hal : 6
[16] QS. Maryam 19 ; 51-54
[17] Amin, Muhammad. 1992. Pribadi Muslim. Surabaya: Al-Ihsan.Hal : 26